“every day we pay a price, we deliver sacrifice” (Jammin, by Bob Marley)
Sewatu hari, seorang wanita, yang kusayangi, berkata padaku “Kapitalisme butuh kita, kita juga butuh kapitalisme”. Kukatakan sekarang, yang benar adalah “kapitalisme butuh kita, kita tidak butuh kapitalisme”.
Kapitalisme butuh kita karena kita adalah negara dunia ketiga yang lemah. Kita cukup di intimidasi dengan tidak lagi dipinjami uang untuk membagun, maka segala kebijakan kita langsung menjadi lembek dan memihak pada kuasa modal. Kita tidak punya pemimpin yang cukup percaya bawa kita bisa membangun diri kita sendiri, “Walk the Proud Land” kata Bob Marley. Kita tidak punya lagi Sukarno yang lantang berteriak tentang kolonialisme Amerika.
Kapitalisme butuh kita, karena kita menyediakan tenaga kerja yang murah, yang bisa dibodohi karena menderita, dan berpikir bahwa para kapitalis itu menjadi kaya karena rejekinya yang sudah diatur oleh tuhan. Kapitalis itu menjadi kaya karena usahnya yang murni atas usahanya yang keras untuk bekerja, sedang kita pagi berangkat kesawah sore baru pulang, tidak menganggap itu sebagai kerja keras. Lalu menyalahkan tuhan dan menganggap tuhan belum memberikan rejeki pada kita. sedang Allah SWT telah menyuruh kita, bertebaran di muka bumi dan mencari rezeki yang telah dibagikan-Nya, artinya tentu bukan dengan menipu orang lain, sedang kapitalisme adalah penipu (baca Karl Mark, dan segudang kritik lainnya atas kapitalisme).
Kita dapat dengan mudah menyediakan sumber daya alam kita untuk di ekploitasi, lalu kemudian sependapat dengan birokrat kita, itulah cara menyelesaikan persoalan pengangguran sekarang ini. Pada kenyataanya, tenaga kerja mereka tetap orang asing, kemudian kita sepakat lagi bahwa SDA kita kurang berpendidikan. Sekarang siapa yang harus disalahkan, ketika kita belum siap mengapa kita menerima kapitalisme. Apakah semua itu karena kita tergiur pada apa yang dinamakan medernisaisi yang kita pandang dengan Mobil mewah, gedung tinggi, atau minimal punya motor merek Jepang, tanyakan lagi pada diri kita, itukah modernitas dan apakah kita benar-benar membutuhkanya?. Atau jangan-jangan itu cuma keinginan kita yang menjelma jadi kebutuhan.
Kita juga sangat wellcome dengan para penjajah itu, lihat BUMN kita yang mau dijual, lihat masyarakat ada kita yang tersingkir dari tanah leluhurnya. kita bisa saja berdalih untuk pembangunan, tapi realitasnya kuasa modal itu selalu saja memarginalkan masyarakat-masyarakat adat pada dunia ketiga. Membicarakan itu maka kita akan kembali lagi kita pada perdebatan persoalan rendahnya mutu pendidikanmasyarakat kita.
Bukankah yang menjadi pemimpin kita adalah orang yang cukup terdidik, segudang tulisan, buku, jurnal, bahkan teriakan jalanan sudah ada. Pertanyaan-nya kenapa itu belum cukup menyadarkan kita untuk mementingkan lebih dahulu kepentingan masyarakat kita. Dengan cara, berhati-hati dalam menerima uang yang jelas tidak punya nurani itu. Yang punya nurani kan kita dan pemimpin kita yang punya kuasa untuk mengambil keputusan. Kritik Gunar Myrdal tentang industri yang tidak menyelesaikan masalah pengangguran dunia ketiga kan cukup untuk membuat kita melek, bahwa tidak selamanya industrialisasi (kapitalisme) menyelesaikan masalah kita yang pelik ini.
Kapitalisme membutuhkan kita karena kita berlomba untuk saling menipu diantara bangsa kita sendiri. Saling mengambil keuntungan demi pribadi kita masing-masing. karena kita dengan sengaja telah disengsarakan. Contoh ; Seandainya angkutan umum kita nyaman, aman, dan membuat betah, kukira akan sedikit orang yang berpikir untuk mengambil kredit motor, sementara pembangunan kita banyak yang tidak tepat sasaran dan takut-takut. Misal ; kita merasa lebih baik membangun kantor gubernur yang bagus dari pada memikirkan membangun sarana umum yang baik, atau kita merasa lebih baik membelikan mobil dinas dewan rakyat yang bagus ketimbang mendahulukan kepentingan pendidikan. Atau lihat rumah sakit milik pemerintah kita yang jelas dibangun dengan duit rakyat dan untuk kepentingan rakyat masih ada kelas didalamnya, bila bayar mahal baru bisa dapat fasilitas yang bagus, mana arti sila ke empat dari Pancasila yang katanya adalah landasan idiologi negara kita. Maka yang terjadi adalah kita berlomba saling mengumpulkan duit sebanyak mungkin, untuk motor yang bagus, pendidikan yang bagus, dan rumah yang posisinya bagus, karena rumah yang bagus harus ditebus dengan uang yang banyak (ini muncul dalam pikiranku ketika melihat iklan perumahan mewah di tivi, yang berkata : pilih tempat kami bebas banjir, kenapa tidak bersama bekerja untuk membangun sesutu yang membebaskan jakarta dari masalah banjir, banyak cara saya pikir). Maka yang ada, kata Iwan fals ; korupsi sudah menjalar sampai ke tingkat RT. Lalu kita akan berdalih bahwa pemerintah sih inginnya kita begitu, tapi susah kalo masyarakatnya tidak mau kerja sama. Maka pada pemerintah, banyaklah membaca teori yang membicarakan tentang perlawanan, kenapa masyarakat resisten, jelas karena pemerintah sendidiri tidak kooperatif. Kalo caranya bagus, kooperatif dan terencana maka resisitensi saya yakin akan hilang dengan sendirinya.
Kita tidak membutuhkan kapitalisme karena kita adalah negara yang subur, punya sumber daya manusia yang banyak (kualitas kita bisa tutupi dengan kuantitas), kita punya budaya yang luhur, kita punya etnis yang beragam, kita punya sumber kehidupan yang telah kita kenal. itu saja yang kita kembangkan dengan perspektif modern, maka kita akan maju. Asal sekali lagi kita tidak mengartikan modern dengan tergiur dengan iming-iming kebodohan yang ditawarkan oleh modal.
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.
Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.