Sebuah berita yang tidak menyenangkan disebuah koran nasional hari kemarin. Isinya Yayasan jantung Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, dan Forum Warga Jakarta mendesak pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Tujuannnya agar masyarakat miskin dan anak-anak tidak bisa dengan mudah mengakses rokkok mengakses rokok. Alasannya agar warga miskin bisa hidup lebih sehat, dan menurut survey Peneliti Lembaga Demografi Fakultas ekonomi Univ. Indonesia, Abdillah Ahsan, akan meningkatkan perekonomian masyarakat dan penciptaan lapangan kerja baru (lihat Harian Kompas, sabtu 31 mei 2008, pada kolom bisnis dan keuangan).
Bagi saya, hanya satu, ditengah naiknya harga BBM dan Harga kebutuhan pokok, sehingga kenikmatan orang miskin dalam menjalani hidup tercabut, maka satu lagi kenikmatan yang bisa mereka dapatkan akan dicabut. Rokok bisa menjadi pelarian bagi orang yang bisa menikmati merokok, mereka bisa merasa tenang dan rileks setelah mengisap rokok (peduli setan dengan segala akibatnya, biar tuhan yang atur). Setidaknya itu adalah hiburan yang bisa mereka bisa dapatkan dengan duit kurang dari sepuluh ribu rupiah. Kesenangan lain di Negara Pailit ini harus dibayar dengan mahal, kesimpulannya orang miskin ngga bakalan mampu. Sekarang itu juga ingin mereka cabut, seolah-olah kesenangan dunia ini hanya berhak dinikmati oleh orang kaya dan berduit.
Inilah pola yang dikembangkan dinegara kacau ini untuk menyelesaikan masalah, masalah diselesaikan dengan masalah baru. Setidaknya jangan sekarang lah, mahalkan harga kalau kita semua sudah kaya, yang artinya semua orang sudah mampu membeli. Atau bikinlah sistem agar kita bisa merasakan secara sama semua kesenangan yang ada itu. Bukan dengan saling cerabut.
Faktanya orang kaya di indonesia ini tumbuh dengan signifikan berbanding lurus juga dengan pertumbuhan orang miskinnya. Ada apa ini? jangan-jangan orang kaya itu menjadi kaya dengan mengisap orang miskin, kayak rentenir aja. Realitasnya setiap mobil mewah keluaran baru, selalu ada berseliweran dijalan-jalan raya kita, ironis sekali dengan ibu-ibu tua pingsan yang senyumnya merekah ketika menerima dana BLT yang hanya 3 ratus ribu. Jangan-jangan dana BLT itu cuman remah-remah orang kaya itu. kaya lagu bang Rhoma “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”.
Faktanya lagi begitu banyak penyimpangan yang terjadi dalam kasus pengadaaan minyak yang katanya sekarang mahal dan langka itu. Tidak hanya pengadaan yang carut marut, bahkan ketika sudah ada pun disimpangkan dan di kuras sama cukong-cukong oportunis keparat itu.
Ayolah……………, Dunia ini diciptakan tuhan dengan konsep adil, jangan mengingkari tuhan donnnnk, apa bedanya kalian dengan penjajah. Penjajah pakai senjata, kalian pakai sistem, cuman beda metode. Saya faham niat kalian baik, tapi jangan rusak niat baik kalian dengan mengecewakan orang miskin seperti kami. Soalnya bukan cuman rokok, tapi rokok mengandung kesenangan yang tidak bisa kalian rasakan karena kalian tidak merokok. Dan kesenangan itu bisa kami dapatkan dengan duit kurang dari 10 ribu. Ya…. untuk ukuran sekarang lumayan murah lah, karena juga tidak bisa disebut murah, mengingat sulitnya lapangan kerja dan kesempatan yang didapatkan oleh kami orang miskin ini.
Saya ingat satu kata-kata bagus, “ilmu itu kalau tidak pakai nurani sama seperti besi berkarat, keras tapi tidak bisa dipakai”. Setidaknya kasian lah pada kami, kami bukan orang yang mampu melihat seribu tahun mendatang, kami hanya mampu melihat detik kemuka saja. tolonglah pakai ilmu kalian dengan cara pandang kami, masih banyak jalan yang lain kog yang lebih ramah dengan kami ORANG MISKIN ini……..
(ditulis dengan segala kesedihan dan air mata yang pernah tumpah dibumi persada ini)
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.
Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.