aku pernah mendengar bahwa budaya diwariskan secara genetika dari generasi kegenerasi. menurutku tidak, budaya punya cara yang khas untuk diwariskan dari generasi kegenerasi. budaya mengalir memlaui berbagai media dan pranata yang terbentuk secara otomatis dan sistematis didalam budaya itu sendiri.
dulu budaya kita diwariskan melalui berbagai manifestasi dari kebudayaan itu sendiri. misal tari-tarian, cerita rakyat, pentas kesenian, lembaga agama, sistem sosial, dan berbagai tata aturan dalam budaya itu.
seorang yang dilahirkan dalam masyarakat banjar misalnya akan mewarisi budayanya melalui lingkugnannya dengan media-media yang tersebut diatas tadi. sehingga tidak heran misalnya orang yang memiliki darah banjar yang sedari kecil tinggal dijawa musalnya tidak akan mempunyai jiwa banjarnya. karena bagaimanapun ia sudah terpisah dari orde sosialnya.
Pelembagaan budaya inilah yang kemudian berkembang menjadi peradaban, yang umumnya sudah terstruktur dan mapan. sementara proses budaya akan terus berlangsung, mengalir melalui sungainya. dan dalam perjalananya tidak menutup kemungkinan untuk mengalami pembaruan (modernitas).
Maka ketika media budaya ini sudah kehiolangan maknanya seperti sekrang ini, menjadi hanya sekedar tontonan tanpa ini, asumsi ini tidak akan lagi berlaku. lihatlah sebagian budaya kita sekrang yang hanya menjadi tontonan wisata yang dianggap unik dan menarik oleh orang luar. sementara secara esensi ia tidak lagi mengandung nilai sebenarnya dari kebudayaan yang diwakilinya.
Karena bagaimanapun, seni dan lembaga kebudayaan lainya adalah sewatu manifestasi dari kebudayaan yang hidup dan tumbuh dalam orde sosialnya. misalnya kebudayaan banjar yang sangat akrab dengan sungai, melahirkan apa yang terkenal kemudian dengan pasar terapung. sekarang hal itu hanya tersimpan dalam mental para kaum tuanya saja, kaum muda tidak lagi melakukan itu, karena sekarang ada pasar, ada mol ada jalan raya, sehingga sungai bukan lagi sarana trasportasi masyarakat banjar, maka tidak mengherankan sebentar lagi pasar terapung akan kehilangan rohnya, dan kemudian juga akan menghilang dari ingatan orang Banjar, generasi berikutnya.
Sekarang ini, proses pewarisan budaya kita dikuasai oleh media modern, televisi, radio, dan koran. semua ini seakan memisahkan kita dari keaslian kita. kenyataan bahwa semua orang sekaran ini lebih banya menghabiskan waktunya didepan televisi menonton tayangan-tanyangan semacam sinetron dan pencari bakat dadakan, telah menumbuhkan mental baru, dalam kerangka budaya yang benar-benar baru. itulah sikap mental yang kita wakili sekarang ini.
Muncul berbagai bentuk perlawanan dalam konteks ini. misalnya beberapa orang yang menggunakan website untuk mengingat lagi budaya aslinya. persoalanya adalah itu bukan lagi kebutuhan budaya masyrakat kita, sehingga tetap saja menjadi minoritas dan tidak terlalu diperdulikan.
Tidak salah sebenarnya seandainya kebudayaan yang ditampilkan dimedia memuat nilai-nilai yang mendidik. yang menjadi persoalan adalah tayangan-tayangan ini menumbuhkan sikap mental yang lemah, sehingga tercipta budaya yang lemah pula, contoh konsumtif dan korup. sikap mental ini menjadi pembawaan kita sehari-hari. dan itu pula yang kita tampilkan dalan hidu kita. sehingga munculllah budaya show up dijalan-jalan dan kafe, orang membawa mobil-mobil mewah bikinan eropah dengan bangga, memakai baju merk luar negri dengan angkuh. maka bertambah lagi media pewarisan budaya yang ada.
Sadar atau tidak, ketika seseorang merasa kurang hebat dibanding yang lainya maka ia akan melakukan proses peniruan, dengan juga memakai pakaiaan dan simbol diri yang berusaha setidaknya sama, kalau bisa melebihi, lebih luar negri lebih baik. disadari atau tidak juga beberapa orang yang tidak melakukan itu lebih karena tidak mampu melkuakanya, sehingga tercipta iri dan keinginan untuk bersaing. semua ini mau tidak mau hanya akan melahirkan kekacauan dan cheos dalam budaya. pembentukan sikap individualis ini, bukan dengan sendirinya terjadi. tersusun secara sistematis, karena ia dengan lihai bisa membaca apa yang diinginkan oleh orang yang tidak bisa menyadari siapa dirinya, secara aneh pula orang-orang itu sendirilah sebenarnya pelakunya.
Maka seperti aliran sungai, aliran budaya ini perlahan tapi pasti akan mengikis tepian sungai yang dilaluinya, dan membwa meteri tersebut kemuara, membentuk sebuah endapan dengan materi yang sama, tapi dengan bentuk yang benar-benar baru. ibaratkan saja sungai itu adalah budaya, maka pinggirannya sungainya adalah kita.
Analogi diatas memang seakan membuat kita dalam posisi yang sangat tidak berdaya. tapi tidak mutlak seperti itu, karena budaya bukan sungai. budaya mengandung materi yang berbeda dengan tanah yang dinologuikan dengan pinggiran sungai tersebut, karena ia ada dalam imajinasi manusia. dan segala yang ada dalam imajinasi bukan tidak mungkin untuk kita rubah. karena toh kita sudah mengetahui sebab-sebabnya. dari sanalah seharusnya kita mulai berfikir ulang bagaimana merubah ini semua.
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.
Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.