iqbal’s Weblog

Sebuah Generasi Yang Tidak Lagi Marah…

Juli 20, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

“Wow……, jangan menjadi generasi yang marah” demikian kata seorang dosenku ketika aku masih kuliah di FKIP unlam. ketika itu aku mengkritik negeri ini yang sangat tidak ramah pada kemiskinan dan kemanusiaan. Ya… aku emosional ketika itu, mungkin darah muda generasi yang kecewa karena tidak pernah puas dengan kondisi kehidupannya sendiri yang tidak juga kunjung membaik. Kuliah dengan uang pas-pasan, kadang makan sekali sehari, bahkan 2 hari sekali, telat bayar kuliah, tidak punya motor, kalo jalan dijalan raya hanya bisa nyempil karena toarnya tidak ada (Banjarmasin bo….), terasa dihina dengan motor dan mobil mewah yang melibas angan dan impian, karena bukan kita pemiliknya. Ya….. aku marah, adil itu apa artinya ????????????.

Sehingga menjadikan Iwan Fals sebagai manusia setengah dewa, dan mulai percaya pada Karl Mark, ia meneriakkan segala kegelisahanku tentang nasibku dinegeri ini, Slank yang juga menjadi idolaku, atau group-group rock lain yang punya wawasan sosial yang berpihak pada ketidakadilan pada kemiskinan harta bahkan mental pada bangsa ini. Setiap saat aku putar musik-musik hingar-bingar itu, menumpahkan kekesalan dan mamaki pada kebobrokan pemimpin serakah bangsa ini, yang tidak mampu berbuat atas nama kemanusiaan, hanya kepentingan kantong pribadi dan golongan. menjadikan orang-orang dalam bangsa ini saling sikut dan melecehkan satu sama lain, saling menjual temannya demi mobil dan impian akan kekayaan materi yang disediakan dengan pongah oleh bangsa kusut ini.

Aku hidup dalam sinis, menganggap semua yang ada di hadapanku hanyalah sampah yang tidak berguna, sebuah senyum tampa komentar cukup bagiku, karena aku yakin mereka juga tidak akan faham, kalaupun faham apa yang bisa mereka lakukan. huh…. kalian hanya sialan-sialan pake baju bagus, pikirku.

Kini di ambang mataku, ketika aku mulai bisa menerima keadaanku, lirik-lirik tentang kekecewaan itu sudah digantikan oleh band-band cengeng manja yang menyanyikan lagu cinta seolah-olah itu lah segalanya yang penting dalam dunia ini. Melagukan tentang keterlukaan cinta, keindahan cinta, cinta apaaaaa….? tai……? yang ada mereka hanya mengajarkan bangsa ini menjadi bangsa cengeng yang carut marut, tidak mendidik, tidak serius, dan lembek, penakut, dan khawatir tentang masa depan. Bagaimana jika aku tidak punya pekerjaan, bagaimana mungkin aku memupuk cinta tanpa uang….. mungkin itu yang mereka pikir saat mendengar lagu legu cengeng itu dan kemudian menghadapi hidup. Hingga takut dipecat dikantor, jadi takut ngomong, bersedia dengan penuh harap, kalau perlu menyuap dan menjilat untuk jadi pegawai negeri…. kacrut me**k anj**g…….!

Lihatlah efeknya sekarang ini, mahasiswa jadi lembek, tidak kritis, dan kuliah dengan mengejar-ngejar cinta. Hampir tidak ada lagi yang kritis, kecuali untuk kepentingan menjilat, dan bangga jika sudah berkawan dengan pejabat, dan bermimpi menjadi pejabat juga. Generasi masa kini sudah tidak lagi marah, mereka diredam dengan berbagai kecengengan seni dan media massa kita. Mungkin karena mereka hidup dalm suasana yang lebih baik? kurasa kog tidak ya….

Minyak mahal, barang mahal, angkutan kota mahal, listrik mati tiap hari, jalan macet dan polusi, pendapatan menurun kecuali bagi yang bapaknya koruptor, lalu kenapa bisa lagu-lagu cengeng itu begitu populer, apakah karena mereka sudah jenuh dengan kondisi ini dan mencari pelarian, tapi rasanya bukan itu sifat manusia. Manusia mencari yang mau mendengarkan seharusnya, orang yang senasip, atau setidaknya bersimpati. Seperti Iwan Fals bagiku misalnya, bagaimanapun dia lebih baik nasibnya dariku, tapi ia meneriakkan kegelisahanku, so….. yang sebenarnya apa. Begitu menyenangkan kah hidup di negara ini hingga tidak sempat mengurusi urusan lain selain cinta. F**k you all, live and die for Iwan Fals and Rock & Roll.

Kategori: Uncategorized

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.