iqbal’s Weblog

Perkebunan Sawit Batola : Bencana atau Berkah

Juni 8, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

“Paling tinggal 20 % dari penduduk sini yang bertani sekarang. itupun padinya kurang menghasilkan”

Minggu seperti biasa pergi memancing. kali ini tujuannya ke Karya Tani Kec Barambai. memancingnya di sungai kecil yang sudah dikeruk oleh perusahaan perkebunan sawit.

DIbawah terik matahari seorang ibu juga sedang memancing disebelahku. pembicaraan awal kami cuma soal lokasi memancing yang bagus. karena ada kabar di parit-parit perkebunan sawit tidak jauh dari lokasi kami sekarang bannyak ikannya.

Tidak lama kemudian pembicaraan ini berubah menjadi curhat soal rusaknya lahan warga. Soalnya, lahan menjadi sangat cepat kering akibat kali-kali yang dulunya sedikit, menjadi lebih banya, semakin lebar dan dalam. akibatnya tiga hari setelah hujan lahan pertanian tadah hujan milik warga menjadi cepat kering.

Akibanya adalah, padi tidak bisa beranak dan menjadi kontet, karena kekurangan air. Ketika berbuah isinya kopong, gara-garanya kurang air.

Dulu warga bisa menutup aliran sungai untuk menahan air agar tidak terlalu cepat kering. sekarang hal itu sduah tidak mungkin dilakukan karena terlalu banyak yang harus di tutup, selain sangat dalamĀ  (tabat, dalam bahasa setempat).

Sekarang ini warga sulit untuk menari penghidupan. bekerja di ladang sawit pun upahnya sangat kecil, sehingga kurang untuk mencukupi kebutuhan harian. Hanya yang kepepet saja menurut ibu tersebut yang mau bekerja pada kebun sawit.

Waktu awal pengerjaan lahan, menurut ibu tersebut, perusahaan datang langsung saja bersama bupati perode terdahulu tanpa melakukan konsultasi dengan masyarakat. kemudian melakukan pinjaman kredit untuk masyarakat. tidak lama eksapator keruk datang, mengeruk kali dan tatasĀ  yang ada didaerah tersebut.

Sementara janji untuk memperbaiki jalan yang ada di daerah tersebut juga tidak terealisasi sampai hari ini.

Sebagian penduduk yang dulu senang dengan datangnya sawit pun sudah berbalik sekarang ini. Janji-janji manis yang dulu berhamburan hilang seperti debu jalan diterpa angin musim kemarau.

Pokoknya seluruh masyarakat sekarang ini tidak ada yang senang dengan keberadaan perkebunan sawit di belakang kampung mereka tersebut. yang ada hanya kesulitan dan intrik yang tidak difahami oleh penduduk kampung seperti mereka.

Demikian curhat ibu tersebut yang ditutup dengan mengangkat hasil pancingan kami yang tidak lebih dari sepuluh ekor ikan papuyu (betok), kecil-kecil.

Kategori: Uncategorized
Ditandai:

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.